Today's Highlights

Notes

International

Latest Updates

Mengulik Projek Dokumentasi Online Ala Sound From The Corner

22:46
Co-Founder Sound From The Corner (SFTC), Teguh Wicaksono, menjelaskan banyak hal tentang manajemen projek di kelas workshop online music documentation yang diselenggarakan oleh SAE Institute Indonesia, bertempat di Jl. Pejaten Raya No.31, Ps. Minggu, Jakarta. Berlangsung pada hari Minggu (1/10/2017).

Kelas “online music documentation” mulai dipenuhi sejumlah peserta workshop pada jam 3 sore di ruangan yang berkapasistas sekitar tiga puluhan orang. Sebuah video klip musik hasil produksi dari Sound From The Corner dipertontonkan sebagai pengantar sebelum memulai pemaparan materi workshop. Saat itu tidak lupa Teguh juga menyelipkan penjelasan tentang kegiatan Archipelago Fest sebagai partnership di acara yang akan berlangsung tanggal 14 dan 15 Oktober 2017 mendatang.

Teguh menjelaskan kegiatan yang dilakukan oleh SFTC, yaitu sebuah pengarsipan musik dalam bentuk dokumentasi video online. Dalam pemaparannya, terdapat tiga rangkaian materi; Project management, Video production dan Audio production. Namun waktu kurang lebih 90 menit tanpa rekan pemateri lainnya, penjelasan dari Teguh menitikberatkan hal-hal yang berkaitan dengan manajemen projek Sound From The Corner, seperti mengkurasi, negosiasi, monetasi.

Sound From The Corner (SFTC) adalah projek pengarsipan online dengan mengkurasi dan memproduksi dokumentasi musik di Indonesia yang berfokus pada kualitas”, ucap Teguh.

SFTC pertama kalinya dimulai tahun 2012, berawal dari kerisauhan Teguh bersama teman-teman lainnya, yang merasa bahwa adanya kejanggalan tren program acara musik pagi di stasiun TV Indonesia. Program acara musiknya kebanyakan sangat tidak memberikan edukasi dan representasi penampilan musik yang selayaknya. Lihat saja saat itu bahkan mungkin sekarang juga masih ada program acara yang menyajikan penampilan musisi atau grup musik dengan tidak benar-benar tampil secara orisinil, ditambah lagi terdapat penonton-penonton aneh yang diatur oleh pihak acara tetapi justru justru terlihat konyol di layar kaca. Dengan melihat fenomena itulah yang kemudian SFTC mencoba untuk menawarkan sajian alternatif konten musik berkualitas.

Kembali pada materi projek pendokumentasian. Tahapan konseptual dari pengkurasian, yaitu menentukan dan mengolah konten apa yang akan kerjakan, hal tersebut menjadi pemahaman mendasar untuk membentuk karakter dari dokumentasi yang dihasilkan, karena nantinya ada banyak pilihan publik untuk memilih apa yang ingin dia tonton. Nah, karakter dan konsistensi kontenlah yang kemudian dapat menarik perhatian khalayak. Tidak hanya sampai di situ, kita juga perlu memperhatikan konten untuk bisa tetap berkelanjutan, artinya bagaimana mengolah ide agar terus berkembang sesuai dengan nilai karakter dan konsistensi yang sudah dibuat.

Teguh mengatakan secara konseptual bahwa SFTC biasanya membuat agenda atau catatan-catatan untuk mengetahui apa saja yang akan dan telah dikerjakan, seperti menentukan kejelasan format projek, isi konten, kejernian akses, dan evaluasi. Kami selalu mengupayakan agar alur kerja terencana secara kompleks serta mengetahui berbagai hal untuk kelancaran pengerjaannya.

Kurasi Musisi atau Band
Teguh juga menjelaskan terdapat dua cara dalam proses pengkurasian band yang dilakukan oleh SFTC, pertama kami berusaha mengenal band secara mendalam atau band menawarkan sendiri karyanya untuk didokumentasikan. Selanjutnya proses itu kami diskusikan bersama secara subjektif, apa saja yang menarik sehingga menjadi sebuah keharusan untuk memproduksi dan medokumentasikan video band tersebut.

“Secara umum penilaiannya itu dari segi kualitas band dan karyanya. Sebenarnya kami juga tidak mempunyai syarat dan ketentuan yang pasti, hanya saja melalui diskusi-diskusi yang dilakukan dapat dipertimbangkan bersama”, ungkapnya.

Menurut Teguh Mengukur kualitas musik dan band atau musisi itu bisa dilihat dari berbagai sisi, yang tentunya juga dilihat dari eksekusi penampilannya di panggung. Selera musik setiap orang berbeda-beda, jadi tergantung dari apa yang dianggap seseorang secara subjektif baik untuk dinikmati. Pendapatnya saat ini perkembangan musik di Indonesia sangat pesat dengan banyaknya berbagai macam karya musik, hanya saja masih banyak musisi atau band yang masih belum terangkat untuk diperkenalkan kualitas musiknya ke banyak orang.

Mengolah Produksi dan Monetisasi
Sementara proses kerja video dan audio tidak dibahas secara mendalam pada kesempatan ini, semuanya dapat dipelajari lebih jauh bersama tim produksinya masing-masing. Ringkasnya, terdapat enam kameramen SFTC yang bertugas mengambil gambar secara khusus, selain itu terdapat editor, kru alat, dan sebagainya. Kategorisasi konsep video juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu luar ruangan dan dalam ruangan, adapun konsep produksi yang juga dilakukan di area konser yang biasanya menyesuaikan dengan keadaan acara dan panggung. Pada setiap kategori video tersebut, secara teknis tim audio menyesuaikan keadaan untuk pengambilan suara.

Secara menyeluruh pendokumentasian itu penting untuk melengkapi penyusunan portofolio, itu juga yang nantinya dapat menunjang promosi ke publik. Ada banyak hal yang bisa didokumentasikan dalam kegiatan musik, mulai dari aktifitas sehari-hari dari band dan timnya, bagaimana karya musik berproses di studio atau panggung, dan sebagainya.

Pendekatan proses kerja SFTC dilakukan secara kolektif dalam ruang lingkup komunitas, biasanya SFTC membuat konsep produksi yang didiskusikan bersama musisi atau band yang dipilih, namun ada juga yang menawarkan diri dengan mengirimkan penawaran dan portofolionya ke SFTC. Semuanya menyesuaikan, namun terdapat beberapa hal yang perlu didiskusikan terlebih dulu dengan saling mencocokan kelayakan pengerjaan projek.

Mengerjakan projek secara partisipatif, kegiatan SFTC baru termonetisasi ketika memasuki tahun ketiganya dalam berkarya secara konsisten, yang dibangun melalui platform Youtube. Dalam hal bisnis SFTC belum mengembangkannya secara merinci, SFTC tidak ingin terlalu berkompromi dengan pihak brand atau sponsor dalam mengintervensi program.

SFTC juga pernah mendapatkan beberapa tawaran untuk menyiarkan dokumentasi video musiknya di stasiun lain, seperti TV, hal tersebut sangat dapat dimungkinkan sebagai kegiatan bisnis, tetapi dari SFTC tidak ingin menginginkan videonya disiarkan di saluran atau stasiun lain, karena dapat mengubah idealis SFTC yang dibangun dari awal. Apalagi dalam proses produksinya bersama musisi dan band juga dimulai dari kerja secara kolektif dan partisipatif untuk menghidupkan dan meluaskan skena musik Indonesia melalui eksistensi media baru.

Pengalaman negosiasi monetasi video pernah dilakukan bersama dua band, seperti Dialog Dini Hari dan Endah n Resah, pembagiannya 70:30, 70% ke pihak band dan 30% ke pihak SFTC, namun tidak menutup kemungkinan akan berbeda dengan yang lainnya, semua tergantung dari diskusi bersama band.

Adapun pengembangan yang dilakukan SFTC dalam rangka ulang tahunnya yang kelima, disampaikan Teguh bahwa SFTC membuat sebuah tim projekan bernama “Squad” yang diharapkan dapat mengembangkan kegiatan untuk menjangkau skena musik labih meluas di Indonesia. Kegiatan projekan itu terdiri dari rangkaian workshop serta perekrutan tim di beberapa daerah. Saat itu terdapat sekitar 300 orang dari beberapa kota yang mendaftar, kami berharap bersama Squad SFTC itu bisa memacu semangat kreatifitas untuk mengangkat skena musik Indonesia.

Mengulik karya musik di Indonesia sangat banyak keberadaannya di berbagai daerah yang mungkin masih memiliki keterbatasan akses dalam mengangkat skenanya. Dengan demikian eksistensi SFTC saat ini sangat dimungkinkan untuk menjangkau kegiatan musik di daerah-daerah. “tetapi saya malah berpikir lebih baiknya lagi kalau teman-teman daerah dapat membangun skena musik lokalnya sendiri, yang tidak menutup kemungkinan juga bisa menggunakan langkah-langkah seperti yang dilakukan SFTC”, ucapnya.

Beberapa bulan lalu SFTC mengerjakan projek workshop pertama kalinya di makassar, pekanbaru, jogjakarta, dan bandung, dengan harapan bisa menghidupkan potensi di daerah tersebut untuk ikut terlibat dalam mengangkat kualitas skena musik di Indonesia. Kegiatan itu pun mendapatkan respon yang sangat baik, sehingga ke depannya kemungkinan bisa digelar kembali dengan menjangkau lebih banyak daerah lainnya. “kalau ada kesempatan sepanjutnya, kami juga ingin berkunjung ke Palu”, tutupnya.

Dari keseluruhan penjelasan Teguh, sebuah konsistensi dan karakter memang menjad hal terpenting dan tantangan dalam berkarya saat ini. Disamping ketersediaan informasi serta beragam perangkat yang dapat menunjang kreatifitas, menjaga konsistensi dan karakter itu juga menjadi bagian yang harus selalu diperhatikan.

Narasumber: Teguh Wicaksono | Co-Founder Sounds from the Corner | Country Manager at Musical.ly | Partnership Manager Twitter Indonesia

Nimbrung di Open House SAE Insititute-Indonesia

02:01
Kesempatan nimbrung di acara Open House SAE Institute, Indonesia, merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Bagaimana tidak, kegiatannya menyajikan workshop / lokakarya dengan mater-materi yang tentunya dapat membuka wawasan kreatifitas secara intim. Bukan hanya itu, kegiatannya juga  mengenalkan kepada peserta tentang SAE Institute sebagai kampus yang terbilang mecing dan termutakhir dengan kurikulum media kreatif yang kini banyak diminati oleh generasi millenials.

Open House SAE Indonesia ini sering diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan promosi sekaligus edukasi mater-materi yang berkaitan dengan kurikulum kampusnya. Biasanya terdapat tiga kelas yang dibagi sesuai bidang dan minat. Setiap pelaksanaannya juga dibuat secara gratis, jadi siapapun bisa datang dengan mendaftarkan diri melalui website SAE Institute, Indonesia.

Pertama kalinya saya mengikuti kegiatan OPEN HOUSE SAE Indonesia, pada 12 Agustus 2017 lalu dengan mendaftar di kelas Music Business yang membahas tentang "Digital Streaming Era" pemaparan dari Kara Mindy selaku Alumni pertama dan juga Dosen di SAE Institute, Indonesia, di luar dari itu ia juga bekerja sebagai Trade Marketing & Channel Manager di Believe Digital.

Selanjutnya dalam kesempatan lain, saya kembali mengikuti kegiatan OPEN HOUSE SAE INSTITUTE yang diselenggarakan pada 1 Oktober 2017, dengan mengikuti kelas Online Music Documentation, yang dipaparkan oleh Teguh Wicaksono selaku partnership SAE Institute dari Sounds From The Corner (SFTC), dan juga berkolaborasi dengan Archipelago Fest. Selain diselipkan promosi acara Archipelago Fest, Teguh juga banyak menceritakan tentang SFTC, dengan pembahasan yang berfokus pada materi Project Management.

Para peserta dari berbagai bidang minat kreatifitas sangat berantusias mengikuti kegiatan OPEN HOUSE SAE Insititute, Indonesia, terlihat dari semua kelas yang diadakan tampak interaktif bersama pemateri yang sangat berkompeten di bidangnya masing-masing. Tentunya kesempatan mengikuti kelas lokakarya SAE Institute ini memberikan manfaat. Dari kegiatan ini juga saya bisa mengenal SAE Institute, Jakarta, pemateri profesional, dan beberapa peserta lainnya yang ternyata juga sudah berkecimpung di Industri kreatif, seperti manajemen band, kru musik, film-maker, dan sebagainya.

Mengulik tentang SAE Institute termasuk salah satu kampus yang sangat diminati oleh para pelaku ataupun pegiat Industri Kreatif. Eksistensinya bukan hanya berada di Indonesia, melainkan ada 53 kampus di 27 negara lainnya. Sementara untuk SAE Indonesia didirikan pada tahun 2011 lalu, menawarkan program Sertifikat, Diploma, dan Gelar Sarjana yang terakreditasi di bidang Audio Engineering, Music & Entertainment Business, Animation, Film dan Design. Program tersebut juga divalidasi oleh Middlesex University, London, Inggris.

[Tinjauan Literatur] Fundamentalisme Media, Budaya, dan Perubahan Sosial

03:13

'The medium is the message', menjadi istilah paling terkenal dari seorang ilmuwan komunikasi, Marshall Mcluhan. Mcluhan mengembangkannya sebagai teori yang kemudian menjadi sebuah konsep “desa global”. Desa global menggambarkan bagaimana teknologi komunikasi dapat mengecilkan bumi menjadi desa melalui informasi yang instan, tersedia di mana saja dan kapan saja. Artinya sebuah medium atau pesan dapat membawa perubahan dari berbagai hal, mulai dari budaya, sosial serta teknologi komunikasi yang digunakan.

Menurut McLuhan, medium atau yang disebut media dapat menciptakan lingkungan teknologi, jangkauan dan sifat mendasar, yang harus mengabaikan kekhawatiran apapun dengan efek semu dari kontennya yang spesifik, atau pesan tertentu. (Paul A. Taylor & Jan LI. Harris. 2008. Critical Theories of Mass Media: Then and Now. New York)

Sebuah media tentunya memiliki efek dari setiap pesannya. Efek dari pesan dapat membuat adanya sifat pergeseran budaya dengan pendekatan dan perspektif tertentu. Hal itu kemudian dapat membentuk perubahan sosial sebagai dampak dari umpan balik sebuah pesan yang menyentuh budaya melalui media. Di sisi lainnya, budaya juga dapat menjadi alat komunikasi layaknya media yang menyalurkan pesan satu ke yang lain dengan menyelami kebiasaan manusia dan lingkungannya.

John Storey dalam bukunya, Popular Culture to Everyday Life. Routledge (2014),  mengatakan bahwa budaya bukanlah sesuatu yang terbatas pada seni atau bentuk produksi intelektual yang berbeda, ini adalah aspek dari semua aktivitas manusia. Termasuk bagaimana berkembangnya media serta perubahan sosial. Secara spesifik budaya memiliki konsep yang sangat sulit untuk didefinisikan, walaupun sebenarnya semua sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Budaya berlangsung dalam pengalaman rutinitas yang biasa dan terstruktur, kemudian asumsi menormalkan dan melegitimasi rutinitas untuk membuat rutinitas lainnya tampak tidak normal. Pemahaman seperti itu memberi tahu kita sesuatu yang bisa kita setujui, tapi tidak memberi tahu kita banyak hal di luar sana. Meskipun tampaknya fundamental terhadap definisi apapun, namun konsepnya tidak sepenuhnya memadai.

Sementara pada perubahan sosial adalah istilah yang dimuat dalam proses mencapai kesepahaman antara manusia dalam melakukan pertukaran pesan. Hal ini tidak terbatas pada perubahan perilaku, perubahan sikap atau kesadaran, namun pada dasarnya menunjukkan adanya perubahan yang berasal dari penerapan praktik baru, cara baru dalam melakukan sesuatu oleh masyarakat atau individu.

Dari ketiga hal tersebut; media, budaya, dan perubahan sosial memiliki keterkaitan dalam mewakili keberlangsungan pesan yang diterima maupun diberikan dari atau untuk masyarakat itu sendiri, sehingga dapat dikatakan bahwa media, budaya dan perubahan sosial merupakan representasi pengetahuan yang terus berlangsung di masyarakat.

Representasi pengetahuan telah mengodekan pemahaman dalam sebuah sistem pakar yang berbasis pengetahuan. Bahasa representasi membuat seseorang atau kelompok tertentu dapat mengekspresikan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat digunakan untuk penalaran. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa media, budaya dan perubahan sosial memiliki kecenderungan dalam mengkelompokan pemahamannya masing-masing sebagai suatu perspektif dalam menjalankan kehidupannya.

References:
- Paul A. Taylor & Jan LI. Harris. 2008. Critical Theories of Mass Media: Then and Now. New York
- John Storey. 2014. Popular Culture to Everyday Life. Routledge. London and New York.
- Pradip N. Thomas & Elske Van De Fliert. 2014. Interrogating the Theory and Practice of Communication for Social Change. Australia.

[Tinjauan Literatur] Media & Society – Critical Perspectives (Graeme Burton, 2015)

02:13

Masyarakat dan media terhubung dalam sebuah perubahan sosial. Dalam pandangan secara holistik dan dinamis, hubungan tersebut dapat dipahami dengan mengulik studi media dan budaya yang terus mengalami perkembangan. Penjelasan Graeme Buton dalam bukunya berjudul Media and Society- Critical perspectives (2015), bahwa media ada dalam hubungan yang berkembang dan saling bertentangan dengan khalayak dan institusi negara. Graeme menyajikan berbagai pandangan dan perdebatan tentang media yang memiliki hubungan dinamis dengan masyarakaat karena berkembang dan berubah. 

Sementara itu terdapat posisi kritis yang berbeda untuk hidup berdampingan bersama media, sehingga memunculkan sikap skeptis terhadap motif dan perilaku institusi media yang sangat kuat dalam pengendalian ekonomi dan politik. Graeme menjelaskan berbagai perspektif kritis terhadap hubungan media dan masyarakat, seperti kekuasaan institusi media, fitur dan dekonstruksi teks media, kekerasan, budaya populer, media dan teknologi baru, dan globalisasi yang dilakukan berasaskan hegemoni media. Audiens dan masyarakat perlu melawan kekuatan komoditi media karena telah membentuk budaya yang dipaksakan kepada khalayak. Dengan mengambil perspektif secara kritis bahwa hal terpenting yaitu memahami institusi media.

Industri media menjadi sebuah produsen budaya di tengah masyarakat yang terkonstruksi dari berbagai teks dan makna. Dalam studi Graeme yang berfokus melihat gagasan tentang ideologi, wacana, hegemoni, mitologi, mengatakan adanya sebuah hidup yang terkonstruksi dari kekuasaan media global. Hal terseut tentunya didasari oleh kekuatan dari makna apa yang kita lakukan dengan mereka, sehingga membentuk hubungan, pengaruh, realitas model, bahkan menghasilkan perilaku dominasi dan perasaan subordinasi. Jadi konsep utama media dan masyarakat dapat dikatakan berada dalam jaringan hubungan satu sama lain.

Teks media penuh dengan representasi. Eksistensi industri media memproduksi representasi dari gagasan penguasa yang kemudian memiliki nilai pertukaran material. Dalam model dinamis, ini terus berkembang, bergeser dan bergerak dalam bentuk globalisasi, di mana media terus menghasilkan, menggabungkan, mengulangi gagasan, bahkan menjadi sebuah perdagangan.

Perspektif kritis terhadap media diambil dari pandangan holistik mengenai gagasan besar tentang hubungan antara media dan diri kita sendiri yang terhubung di jalan kapitalis. Faktor ekonomi mendominasi institusi media, terutama di mana-mana terjadi pemasaran. Kemampuan bersaing antar media, persaingan dan nilai pasar lainnya mendorong produksi teks dan perilaku media dikonstruksikan agar meluas sehingga menjadi aktifitas yang kita sebut globalisasi.

Sementara itu dalam perkembangan teknologi media juga menggiring budaya massa yang dikonstruksi atas kebaruan sebuah perangkat informasi untuk digunakan oleh masyarakat. Hal itupun mendorong media untuk mengkonstruksi teks sesuai kepentingan ekonomi dan politik yang ingin dicapai. Dengan demikian dalam ruang lingkup hubungan media dan masyarakat telah mengalami keberpihakan kepentingan di masyarakat karena biasnya pemahaman terhadap kegiatan yang berkaitan dengan informasi.
***

CONTENT
Media institutions:
o   Key areas and their implications for understanding media
Media texts:
o   Features and deconstructions
Audiences and effects:
o   Defining audiences and exploring their relationship with texts
The media and violence:
o   Questioning violence: problems with measuring effects
Women’s magazines:
o   Manufacturing a gendered space: questions of guilt and pleasure
Popular music:
o   Questioning the popular, questioning control, questioning the global
Approaches to film:
o   The missing british film industry: audiences, gazing and meanings
The media and new technology:
o   The effects and implications of technologies for the media and their consumption
Advertising:
o   Its relationship with the media audience: the consequences for society and culture
Television soaps:
o   The question of the gendered audience: the nature of soap operas: the effects of soaps on tv drama
News:
o   Different kinds of news: constructing the world
Sport and representation:
o   Media making meanings about sport: sport making meanings about ideology, race and gender
Globalization and the media:
o   Questions of power and of cultural exchange
 
Copyright © berandaagung. Designed by OddThemes